Cerpen by Rusdianto,
Jum’at 25 juni 2009, dinihari waktu Neverland.
Jacko membuka mata dan menemukan dirinya dalam wujud seorang bocah. Ia merapatkan jaket, menghalau sisa hembusan angin musim panas yang merayap malas di punggungan bukit Santa Barbara, USA. Matanya terpaku pada seekor kunang-kunang berpijar yang mengitarinya. Jacko menggosok mata, meragukan penglihatannya sendiri. Kunang-kunang itu berwujud manusia, wanita sebesar kelingking, tengah melambaikan tangan pada Jacko Itu bukan kunang-kunang ?
Hei, bukankah itu Tinkerbell !? Jacko membalas lambaian peri itu.
Dimana aku ini ? Jacko mencubit lengannya. “Auugh !“.
Tinkerbell menertawakan ulah jacko.
Jacko mengedar pandangan kesekeliling. Matanya menangkap sosok gadis yahudi kecil, sedang asyik sendiri memasang kumis Charlie Caplin dibawah hidungnya. Gadis kecil itu melangkah tegap, menghormat ala pasukan Nazi, lalu berguling-guling, menertawakan ulahnya sendiri.
“ Itu Anne frank.. “ Guman Jacko.
Tak jauh dari tempatnya, Jacko melihat sekumpulan anak-anak Ethiopia. Pekerjaan anak-anak itu hanya bemain, makan, bermain lagi, makan lagi.
Hanya ada satu tempat dimana anak-anak bisa sebahagia ini, pikir jacko tak percaya. “ Apakah aku berada di..”
“ Yah ! Inilah Neverland “ jawab Tinkerbell.
“ Lalu Peter Pan, Wendy….”
“ Kami disini “ Dua suara menyahut bersamaan. Bocah lelaki berambut pirang menyeringai kearah Jacko. Disebelahnya tersenyum manis seorang anak perempuan, Sebuah ciuman tersembunyi disudut bibirnya. Keduanya terbang mengitari jacko.
“ Selamat datang di dunia anak-anak abadi “ kata Peter Pan. “ Cihuiii ! ” Tubuh Peter Pan melesat kelangit & kembali berada dihadapan jacko, bahkan sebelum kata-katanya lesap.
Mulut Jacko menganga.
“ Maukah kamu menari untuk kami ? “ kata Wendy
Wajah Jacko memanas. Hidung pipihnya mengembang. Ia terperangah saat sinar bulan tepat menyorot kearahnya. ia berdiri diatas lingkaran cahaya. Sekelilingnya mendadak temaram.
Tepuk tangan bersahutan. Entah darimana datangnya, ratusan, bahkan ribuan anak-anak muncul mengelilingi Jacko. Mereka semua menyorakinya.
Jacko masih didera rasa takjub, ketika bulan menyita kakinya. Bulan memaksa jacko mengikuti langkahnya. Bulan menari & Jacko ikut kemana sinar bulan melangkah, terpatah-patah. Semua anak-anak ikut menari. Ratusan binatang di Neverland ikut bernyanyi. Waktu seolah membeku. Ketika tariannya selesai, Jacko berjanji, ia tak akan meninggalkan tempat ini lagi.
“ Bolehkan aku tinggal ditempat ini ?“. Kata Jacko menatap Peter Pan.
Beberapa anak-anak berguman, menanggapi keinginan Jacko.
“ Dia bukan anak-anak sejati “
“ Yah, dia sempat jadi orang dewasa “
“ Hatinya tidak murni lagi “
“ Tapi niatnya tulus “
“ Siapa yang tahu ? “
“ Diam ! “ Kata Peter Pan. “ Biarkan Tink yang memutuskan “
Tinkerbell melayang turun kerah Jacko. Ia menyuruh jacko berbaring, lalu hinggap diatas dadanya. Cahaya berpijar dari tubuh Tink perlahan membesar menyelimuti Jacko. Tink menarik keluar isi hati Jacko, mengubahnya jadi lembaran-lembaran film yang mempertontonkan rekam jejak masa lalu Jacko.
Semua mata mengamati serius. Jacko ikut mencermatinya dengan cemas.
Hati berumur 50 tahun itu memutar kembali masa lalu Jacko, satu persatu. Jacko melihat dirinya sendiri bermain bersama Ben, tikus kesayangannya. Kemudian Ia melihat dirinya ikut berpetualang mengelilingi dunia selama 80 hari. Melihat kepuasan terpancar diwajahnya, saat sang pangeran memasangkan sebelah sepatu kaca ke kaki Cinderella. Pada fragmen yang lain ia terlihat bersama Tom Sawyer mengembara dari satu kota kekota yang lain, menjadi salah satu dari 7 kurcaci penyelamat tuan puteri, membangunkan seorang Putri Tidur dengan sebuah kecupan, dan memperkenalkan diri sebagai ‘Winnetou’ pada seorang pengembara asing bernama ‘Old Satterhand’.
“ Jacko akan tinggal & menjadi bagian dari kita “ kata Tink begitu film selesai.
Tempik sorak kembali membahana menyahuti keputusan Tink.
Jacko menghembuskan nafas panjang. Ia berdiri menyambut uluran tangan Peter Pan, lalu melesat keudara. Kini ia resmi menjadi kawanan anak-anak abadi. Juga bisa terbang seperti mereka.
Masih diliputi kegembiraan, Jacko melayang mendekati Tink.
“ Tink, kenapa selama 50 tahun hatiku hanya dipenuhi oleh sekumpulan dongeng masa kecil ? “
“ Karena dulu, sekarang, atau dimasa datang, setiap manusia sejatinya adalah seorang anak-anak“
“ Lalu kenapa manusia harus menjadi dewasa ? ”
Tink mengangkat bahu. “ Bukan harus. Itu pilihan.. “
Peter Pan mendekat kearah mereka. “ Dahulu kala, dunia begtu damai & indah saat masih dihuni oleh anak-anak. Sampai kemudian perang & kebencian yang dibawa oleh orang dewasa datang merusaknya “ Kata Peter Pan sembari menunjuk sisa bangkai kapal Kapten Hook ditepi pantai. “ Jadi, mari kembalikan keindahan dunia dengan tetap memilih untuk menjadi anak-anak “
Jacko mengangguk. Ia kembali melesat keudara bersama Peter Pan & Tinkerbell. Dari bawah, Lamat-lamat telinganya mendengar suara anak-anak menyanyikan potongan lagu yang sangat dikenalnya. …Make a better place for you and for me..
Cerpen Copyright@ 2010 by Rusdianto
“ Dongeng dari masa kecilku memberi makna yang lebih dalam ketimbang yang diajarkan oleh kehidupan (Frederich Schiller) “
Maaf, lagi tak ada cerpen & atau flash fiction terkait.